Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kondisi Sistem Pembelajaran di Sekolah Indonesia Saat Ini

hamba jengkel sekali melihat kondisi sekolah saat ini. Bagaimana tidak? Sekarang ini nilai anak-anak sekolah sangat bagus-bagus padahal kemampuannya begitu-begitu saja. Belum lagi akhlaknya, lumayan parah jika dibandingkan dengan anak-anak sekolah zaman dia dulu.

Setelah melakukan investigasi kesana sini akhirnya hamba tahu bagaimana kondisi sistem pembelajaran di sekolah Indonesia saat in.

1. Banyak sekolah yang menaikkan KKM secara membabi buta.

KKM adalah adalah singkatan dari Kriteria Ketuntasan Minimal. Bahasa mudahnya adalah adalah nilai paling sedikit yang harus diraih siswa bila dia ingin disebut telah tuntas dalam mata pelajaran tertentu. Sebagai gambaran dulu bila ada murid yang mendapatkan nilai 5 maka di raport nilai dengan angka lima tersebut akan ditulis merah. Kalau 6 ke atas akan ditulis dengan tinta hitam. Anak-anak sekolah atau orang tua murid pada zaman itu terbiasa mengajukan pertanyaan dengan : 'merahmu berapa?". Nah yang terjadi sekarang  adalah banyak sekolah yang dengan seenaknya menjadikan KKM mata pelajaran yang tergolong suli (bahasa Inggris misalnya) dengan nilai 8. Bagi yang tahu pasti bisa mengecek apakah kemampuan seorang sisiwa memang layak mendapat nilai 8 atau tidak. Minta saja dia mengartikan sebuah teks recount sederhan (untuk siswa SMP/MTs) kemungkinan besar lebih banyak dari mereka yang geleng-geleng kepala. Itu dalam hal sistem pembelajaran dalam konteks penilaian.


2. Sistem pembelajaran terlalu santai.

Apanya yang terlalu santai? Guru dituntut membuat alat peraga semenarik mungkin untuk para siswa. Ini artinya guru harus melayani dan bisa membuat siswa antusias. Benar bahwa tugas seorang guru adalah memfasilitasi siswa dalam mencari ilmu. Namun mestinya tidak segitunya. Dengan tuntutan seperti itu, guru telah susah payah membuat media pembelajaran paling-paling siswa hanya akan tertarik untuk 3 sampai 4 pertemuan saja. Setelah itu mereka akan ogah-ogahan mengikuti pembelajaran. Baru nenti kalau sudah ada media pembelajaran baru mereka akan antusias lagi. Apa bedanya dengan sistem pembelajaran di Indonesia dulu? Tanpa membawa media pun anak-anak sangat menghormati dan menghargai gurunya. Jadi saat pemebelajaran berlangsung kelas akan sangat kondusif, anak-anak tidak berani berbuat seenaknya. Terlalu santai berikutnya adalah tidak ada tugas hapalan. Hapalan memang kurang bagus, yang penting anak mengerti konsepnya. Itu teori pembelajaraan saat ini. Betul namun tidak sepenuhnya benar. Hapalan perkaliaan 1 sampai 10, hapalan dialog bahasa Inggris dan bahasa lain, hapalan pelajaran sejarah dan lain-lain tentu masih termasuk wajib hukumnya. Model pembelajaran seperti itu sekarang tidak diterapkan dengan alasan katanya siswa tidak akan mau dan membutuhkan waktu terlalu lama. Kalau disuruh hapalan kasihan karena terlalu berat. Yang bisa disebut santai lagi adalah terlalu seringnya tugas kelompok. Lima anak dalam kelompok itu misalnya akan mendapatkan nilai yang sama. Padahal yang mengerjakan hanya satu atau dua anak saja. yang tiga anak mendapat nilai bagus tapi tidak mengalami pengalaman belajar apa-apa apalagi tambhan ilmu. Sebenarnya masih ada beberapa contoh lain berkaitan dengan terlalu santainya sistem pembelajaran di Indonesia saat ini. Misalnya menerjemahkan teks bahasa Inggris menggunankan aplikasi terjemahan. Memang mempermudah, tapi usaha dan hasilnya masih banyak yang asal-asalan.

3. Semua siswa harus naik kelas dan lulus.

Ini model apa lagi? Bukankan ada klausul yang mengatakan siswa bisa dinaikkan bila bla bla bla. Demikian juga dengan standar kelulusan. Namun pada kenyataannya semua anak harus dinaikkan dan diluluskan. Nilai kan hak prerogatif gurunya. Asal masih ada nafasnya naik. Selama jatung masih berdetak LULUS. Ada alasannya kenapa sekolah-sekolah melakukan ini. Pertama kepala sekolah akan malu bila dan disemprot atasan bila ada siswanya yang tidak naik. Tidak hanya itu, kepala sekolah justru akan disalahkan karena ada anak yang tidak naik. Kalau di level sekolah guru tinggal ngikut maunya kepala sekolah saja. Kalau dia minta semua dinaikkan ya guru akan membuat nilai yang memungkinkan semua siswa naik kelas. Untuk masalah kelulusan malah lebih luas lagi karena levelnya minimal sudah tingkat kabupaten. Bila di kabupaten A tingkat kelulusannya tidak 100% maka sang bupati akan malu dan mencak-mencak. Makanya sebelum pelaksanaan Ujian Nasional sang bupati "memotivasi" kepala dinas dan para kepala sekolah agar sukses lulus 100%. Alasan lain adalah kasihan pada siswa. Bila tidak naik mereka akan malu, pindah sekolah atau bahkan tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Wow ! Coba kalau tidak percaya silakan bertanya pada orang-orang generasi beberapa tingkat di atas kita. Saat itu biasa saja ada beberapa anak yang tidak naik atau tidak lulus. Mereka santuy aja tinggal kelas, mengulang, berteman dengan mantan adik kelas dan malah banyak yang semakin pintar. Kan tinggal mengulang pelajaran yang sama.

Itulah beberapa hasil investigasi hamba, seseorang yang penasaran dengan kondisi sistem pembelajaran di sekolah Indonesia saat ini. Apakah temuan hamba ini sama dengan yang Anda rasakan. Mari berdoa agar kondisi sistem pembeljaran di Indonesia segera membaik. Untuk anak-anakku tetaplah menjadi manusia baik ya.



 

Post a Comment for "Kondisi Sistem Pembelajaran di Sekolah Indonesia Saat Ini"